Pages

Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Wew,,tulisan yang aku buat pas lagi soumpek ngerjain revisian, hagz. Disuruh cari urgensi dari uji statistik yang aku buat.. Wala,,lha mau nulis apa lagi di laporanku???hummh
Nah,,setelah seharian (dikurangi 23 jam) ngendon di perpus,,aku nemu bukunya Stephen P. Robbins Perilaku Organisasi yang sepertinya ada teori yang bisa aku sambung-sambungi jadi urgensi dari analisis statistikku..hehehh
Muga2 gag keliatan maksa,,n cepat di acc..wkwkw

1. PELAKU PERSEPSI
Bila seorang individu memandang pada suatu objek dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristik pribadi ari pelaku persepsi individu itu. Dalam faktor pelaku pesepsi ini terdiri atas sikap, motif, kepentingan, penalaman dan pengharapan.

2. TARGET
Karakteristik-karakteristik dari target yang diamati dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Karena target tidak dipandang dalam keadaan terisolasi, hubungan suatu target dan latar belakangnya mempengaruhi persepsi., seperti kecenderungan kita untuk megelompokkan benda-benda yang berdekatan atau mirip. Faktor target ini terdiri atas hal baru, gerakan,bunyi, ukuran, latar belakang dan kedekatan.

3. SITUASI
Penting bagi kita melihat konteks objek atau peristiwa. Unsur-unsur di lingkungan kta juga mempengaruhi persepsi kita. Faktor situasi ini terdiri atas waktu, keadaan/tempat kerja, dan keadaan sosial.

Nah itu mungkin faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi yang bisa aku share kali ini... Kalo pengen lengkapnya, baca buku Stephen P. Robbins Perilaku Organisasi tahun 2003 halam 160.
Mmmm... Mohon doanya ya semua,,semoga skripsiku cepat acc...
aku pengen pulang...huhu
READ MORE - Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Senin, 21 Maret 2011

SOURCE CODE SISIP HAPUS NODE di C++

Hemm,,barusan buka2 folder kuliah dan menemukan ini...hhe
Ini tugas kuliah semester 2 matkul Algoritma dan Struktur Data (ASD), dulu diajarinnya pake C++...
Yah sebenernya sii,,jujur aku lupa ma materi matkul ini,,hhe... Jadi aku share disini buat nge-refresh ingatanku juga, mungkin bermanfaat juga buat temen-temen untuk mengingat kembali atau mungkin juga ada yang lagi nyari referensi yang berhubungan dengan materi ini...
So,,langsung ja... nii dia yang kutemukan... :)

#include
#include
#include

struct THNode
{
int data;
struct THNode *next;
};
int n;
struct THNode *head;
int isEmpty(){
if(head == NULL) return 1;
else return 0;
}
void insertDepan(int databaru){
THNode *baru;
baru = new THNode;
baru->data = databaru;
baru->next = NULL;
if(isEmpty()==1){
head=baru;
head->next = NULL;
}
else {
baru->next = head;
head = baru;
}
printf ("\n");
cout< printf ("\n\n");
}

void insertBelakang (int databaru){
THNode *baru,*bantu;
baru = new THNode;
baru->data = databaru;
baru->next = NULL;
if(isEmpty()==1){
head=baru;
head->next = NULL;
}
else {
bantu=head;
while(bantu->next!=NULL){
bantu=bantu->next;
}
bantu->next = baru;
}
printf ("\n");
cout< printf ("\n\n");
}

void hapusDepan (){
THNode *hapus;
int d;
if (isEmpty()==0){
if(head->next != NULL){
hapus = head;
d = hapus->data;
head = head->next;
delete hapus;
} else {
d = head->data;
head = NULL;
}
printf ("\n");
cout< puts("\n");
} else cout<<"\nKosong\n";
}


void hapusBelakang(){
THNode *hapus,*bantu;
int d;
if (isEmpty()==0){
if(head->next != NULL){
bantu = head;
while(bantu->next->next!=NULL){
bantu = bantu->next;
}
hapus = bantu->next;
d = hapus->data;
bantu->next = NULL;
delete hapus;
} else {
d = head->data;
head = NULL;
}
printf ("\n");
cout< } else cout<<"\nKosong\n";
}

void tampil(){
THNode *bantu;
bantu = head;
if(isEmpty()==0){
while(bantu!=NULL){
cout<data<<" ";
bantu=bantu->next;
}
cout< printf ("\n");
} else cout<<"\nKosong\n";
}


int main()
{
int pilih;
//struct node *start=NULL;
do
{
printf("MENU :");
puts("\n");
printf("1.Tambah depan\n");
printf("2.Tambah belakang\n");
printf("3.Hapus depan\n");
printf("4.Hapus belakang\n");
printf("5.Tampil\n");
printf("6.Keluar\n");
printf("\nPILIH MENU!!! ");
printf("\n\n\pilihan menu : ");scanf("%d",&pilih);
switch(pilih){
case 1:
printf("masukkan data : ");scanf("%d",&n);
insertDepan(n);
break;
case 2:
printf("masukkan data : ");scanf("%d",&n);
insertBelakang(n);
break;
case 3:hapusDepan();
break;
case 4:hapusBelakang();
break;
case 5:tampil();
break;
case 6:exit(0);
break;
default:
printf("\Pilihan salah\n");
break;
}
}
while(pilih!=6);
return 0;
}

Mungkin untuk outputnya gimana,,temen2 bisa langsung nyoba sendiri aja...hhe
Sekian postingan kali ini,, saya mau antri kamar mandi dulu... abis ini kuliah...
deee..... ^_^
READ MORE - SOURCE CODE SISIP HAPUS NODE di C++

Sabtu, 26 Februari 2011

FRAGMENTASI, ALOKASI DAN REPLIKASI

Fragmentasi, alokasi dan replikasi apaan sii???
hehe, mungkin dari beberapa temen2 ada yang belum tau tentang ketiga istilah ini. Tapi buat temen2 PTI UM yang lagi nyari tugas BDT pasti tau.
Fragmentasi, alokasi dan replikasi merupakan faktor-faktor yang dianjurkan untuk digunakan pada basis data terditribusi.
Nih, aku ada sedikit penjelasan mengenai ketiga istilah itu.

1. FRAGMENTASI
Dalam basis data terdistribusi, fragmentasi dilakukan pada relasi-relasi yang ada pada basis data. Fragmentasi membagi suatu relasi yang ada menjadi sejumlah fragmen atau pecahan relasi yang tetap mempertahankan keutuhan informasi semula. Kelebihan dari fragmentasi, yang menjadi alasan dilakukannya adalah dimungkinkannya pemrosesan data secara paralel dan penempatan tupel relasi, yang berisi sejumlah informasi, pada tempat yang tepat, yaitu yang paling membutuhkannya. Fragmentasi sendiri terbagi atas empat jenis, yaitu:

* primary horizontal: sebuah relasi R(A1, …, An) difragmentasi berdasarkan himpunan predikat-predikat relasi PR = {p1, …, pn}. Tiap-tiap predikat merupakan perbandingan yang digunakan dalam aljabar relasional, yang dapat melibatkan operator perbandingan =, ?, <, atau >.
* derived horizontal: pembuatan partisi suatu relasi R berdasarkan partisi yang dibuat pada relasi lain, misalkan S. Satu atau beberapa atribut di R mengacu kepada primary key pada S.
* vertical: fragmentasi ini dilakukan dengan memisah-misahkan atribut-atribut dari skema relasi R ke dalam skema-skema Ri. Setiap fragmen relasi harus memiliki primary key relasi asli.
* hybrid: fragmentasi yang mempunyai pola campuran dari ketiga relasi di atas

Ilustrasi Fragmentasi

Misalkan ada dua relasi sebagai berikut:

PEGAWAI(NoPeg, NamaPeg, Posisi, Gaji, NoDep)
DEPT(NoDep, NamaDep, Lokasi)

Contoh fragmentasi untuk tiga jenis fragmentasi yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

* dalam fragmentasi primary horizontal, dimisalkan ada himpunan predikat yang diakses oleh aplikasi yang berbeda. Satu aplikasi memperoleh informasi pegawai dengan posisi DBAdmin, sementara aplikasi lainnya memperoleh informasi pegawai dengan gaji lebih besar dari Rp 15 juta. Predikat sederhana dapat dinyatakan dalam himpunan sbb: . Selanjutnya, predikat-predikat dapat dinyatakan ke dalam himpunan dari minterm, yaitu . Selanjutnya, predikat-predikat dapat dinyatakan ke dalam himpunan dari minterm, yaitu sebagai berikut
o m1 = Posisi = ‘DBAdmin’ ^ Gaji > 15000000
o m2 = Posisi ? ‘DBAdmin’ ^ Gaji > 15000000
o m3 = Posisi = ‘DBAdmin’ ^ Gaji = 15000000
o m4 = Posisi ? ‘DBAdmin’ ^ Gaji = 15000000
* dalam fragmentasi derived horizontal, misalkan DEPT dipartisi berdasarkan predikat Lokasi = ‘Bandung’, sehingga ada dua partisi

DEPT1 = sLokasi = ‘Bandung’(DEPT)
DEPT2 = sLokasi ? ‘Bandung’(DEPT)

sementara, itu PEGAWAI dipartisi berdasarkan partisi DEPT sebagai berikut:

PEGAWAIi PEGAWAI left outer join DEPTi

* dalam fragmentasi vertical, relasi PEGAWAI(NoPeg, NamaPeg, Posisi, Gaji, NoDep) difragmentasi ke dalam fragmen relasi PEGAWAI1(NoPeg, NamaPeg, Gaji) dan PEGAWAI2(NoPeg, Posisi, NoDep).

Ketepatan Fragmentasi

Fragmentasi dikatakan tepat apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

* kelengkapan: dekomposisi relasi R ke dalam fragmen-fragmen R1, …, Rn dikatakan lengkap jika setiap tupel R dapat ditemukan dalam fragmen Ri mana pun.
* rekonstruksi: jika relasi R terdekomposisi ke dalam fragmen-fragmen R1, …, Rn, terdapat operator relasional sedemikian sehingga .
* disjoint: jika sebuah relasi R dipartisi, sebuah tupel dalam R, jika ditemukan dalam fragmen Ri, tidak akan ditemukan dalam fragmen Rj dengan i ? j.

2. ALOKASI
Dalam basis data terdistribusi, alokasi mengacu kepada distribusi data ke tempat yang optimal. Ada tiga aspek dalam memastikan alokasi menjadi optimal, antara lain

* biaya minimal, yang mencakup aspek komunikasi, penyimpanan, dan pemrosesan (pembacaan dan update); biaya mengacu pada waktu dan biaya jaringan
* kinerja, yang mencakup waktu respons dan throughput
* konstrain pemrosesan dan penyimpanan per situs (tempat menyimpan data)


Alokasi – Kebutuhan Informasi


Untuk dapat mengalokasikan basis data terdistribusi secara optimal, dibutuhkan informasi-informasi tentang sistem sebagai berikut:

* informasi basis data
o skema konseptual basis data dan jumlah situs tersedia
o jumlah, ukuran, dan selektivitas fragmen per relasi global
* informasi aplikasi
o jumlah query aplikasi
o rata-rata jumlah akses baca dariquery ke dalam sebuah fragmen
o rata-rata jumlah akses update dari query ke dalam sebuah fragmen
o matriks yang menunjukkan query mana yang meng-update dan/atau membaca fragmen tertentu
o situs asal tiap-tiap query dijalankan
* informasi situs
o unit cost penyimpanan data dalam satu situs
o unit cost pemrosesan data dalam satu situs
* informasi jaringan
o komunikasi antara dua situs, mencakup antara lain bandwidth dan tunda (latency)

3. REPLIKASI
Sistem basis data terdistribusi dapat menyimpan duplikat dari data yang sama dalam site yang berbeda agar perolehan informasi yang semakin cepat dan toleransi kesalahan. Proses ini disebut replikasi. Replikasi pada relasi bersifat redundan pada dua atau lebih situs.

Replikasi pada relasi disebut replikasi penuh bila relasi tersebut disimpan pada semua situs. Basis data disebut redundan penuh jika tiap-tiap site mengandung duplikat dari keseluruhan basis data.

Replikasi dilakukan karena memiliki kelebihan sebagai berikut:

* jika situs asli yang menyimpan relasi R mengalami kegagalan, relasi R tetap dapat diakses melalui replikanya
* query pada relasi R dapat berjalan secara paralel di simpul (situs) yang berbeda
* lebih sedikit transfer data, yaitu tidak perlu lagi mengambil data suatu relasi melalui jaringan karena sudah ada replika dalam situs lokal.

Namun, proses replikasi juga memiliki kelemahan, antara lain

* proses update yang lebih rumit karena setiap replika relasi R harus di-update.
* kendali atas konkurensi yang lebih rumit karena update terhadap replika secara konkuren dapat menyebabkan basis data menjadi tidak konsisten sehingga diperlukan mekanisme khusus dalam penanganan konkurensi.

Sementara itu, dalam melakukan replikasi, ada dua strategi, yaitu

* sinkron: sebelum seluruh proses transaksi update dinyatakan selesai, data yang telah dimodifikasi disinkronkan ke setiap duplikatnya; proses ini harus menunggu hingga data di tempat penyimpanan duplikat selesai ditulis sebelum dilakukan perubahan lainnya sehingga menjadi lebih kompleks
* asinkron: copy data diperbaharui secara periodik berdasarkan data utama yang diperbaharui; proses penulisan data selesai tanpa perlu menunggu penulisan data di tempat penyimpanan duplikat selesai; proses ini memang meningkatkan kinerja sistem namun risikonya, inkonsistensi data bisa terjadi.

Sekian postingan kali ini, tulisan ini aku ambil dari website yang menuliskan penjelasan mengenai basis data terdistribusi. Penjelasan mengenai fragmentasi, alokasi dan replikasi ini hanya sebagian kecil penjelasan. Teman2 bisa membaca penjelasan lebih lengkap mengenai basis data terditribusi disini.
READ MORE - FRAGMENTASI, ALOKASI DAN REPLIKASI

Rabu, 23 Februari 2011

USABILITY

Ini tulisan aq ambil n sedikit edit dari dua website yang kebetulan aku temuin pas lagi nyari materi usability buat tugas Interaksi manusia dan Komputerku, hehe...

PENGERTIAN USABILITY
Menurut bahasa, Usability berasal dari 2 kata yaitu use dan ability. Pasti temen2 tau semua dong artinya. betul tuh, use = menggunakan, ability = kemampuan.
usability adalah mengukur kualitas pengalaman pengguna( in english, user) saat berinteraksi dengan suatu produk atau sistem, bisa web site, aplikasi perangkat lunak, mobile technology, atau apalah namanya yang ada antarmukanya.
Atau perkataan yang paling masyhur(terkenal) tentang usability adalah seberapa baik user dapat mempelajari dan menggunakan sebuah produk untuk mewujudkan tujuannya dan seberapa puas user dengan proses tersebut(learn and use).
Nah, yang menjadi ukuran usability adalah sebagai berikut:
• Ease of learning
• Efficiency of use
• Memorability
• Error frequency and severity
• Subjective satisfaction

PRINSIP USABILITY
Prinsip Usability adalah prinsip penggunaan dari sebuah sistem oleh sistem lain yang lebih kompleks
Apa hubungannya prinsip usability ini dengan Interaksi Manusia & Komputer ? Saya akan coba sedikit membahas tentang hal itu.
Prinsip Usability terbagi atas :
1. Human Abilities
2. Human Capabilities
3. Memory
4. Process
5. Observations
6. Problem Solving

1. HUMAN ABILITIES
• BAIK
- Kapasitas Long Term Memory (LTM) tidak terbatas
- Durasi LTM tidak terbatas dan komplex
- Kemampuan memahami tinggi
- Mekanisme konsentrasi powerful
- Pengenalan pola pikir powerful
• BURUK
- Kapasitas Short Term Memory (STM) terbatas
- Durasi STM terbatas
- Akses yang tidak dapat diandalkan pada STM
- Proses yang cenderung salah
- Proses yang lambat

2. HUMAN CAPABILITIES
Faktor manusia ini harus diperhatikan, karena dari sinilah desain yang lebih baik didapatkan.
User perlu mengetahui hal-hal berikut dalam merancang :
1. Penginderaan / Panca indra (Mata, Telinga, Peraba)
2. Proses informasi
3. Sistem Motor
a) PENGLIHATAN / INDRA MATA (VISION)
Konsep penglihatan terdiri dari dua tahap :
• Penerimaan stimulus dari luar secara fisik
• Pemrosesan serta interpretasi dari stimulus tersebut
a. Kemampuan Penglihatan
• Sensivitas
Luminance : jumlah cahaya yang dipantulkan oleh permukaan objek, dengan ukuran
10-6 – 107 mL
• Ketajaman
- Visual acuity : kemampuan manusia melihat objek secara detail
- Sudut pandang (visual angle) : besarnya ruang pandang yang digunakan objek →
derajat (degree) / minutes of arc → 1 derajat = 60 minutes of arc
• Pergerakan
- Pola visual dari kata direkam → di-dekoding menurut representasi bahasa →
pemrosesan bahasa meliputi analisis sintaks dan semantik terhadap frase dan kalimat
- Mata bergerak terhadap teks → regression
• Kemampuan membaca akan berkurang atau menurun karena usia.
b. Warna
• Warna dikaitkan dengan hue, intensitas, dan saturation
• Hue → panjang gelombang spektrum cahaya
• Intensitas → brightness dari warna
• Saturation → jumlah / kadar putih (whiteness) dalam warna
• Masalah persepsi warna pada cones (sel pada selaput retina yang sensitif terhadap warna) dan ganglion (simpul syaraf)
• 380 (blue) ~ 770nm (red)
• Radiasi dalam spektrum (panjang gelombang cahaya) adalah 400 – 700 nm
b) PENDENGARAN (HEARING)
• Sistem auditory memiliki kapasitas sangat besar untuk mengumpulkan informasi lingkungan sekitar.
• Dapat mendengar objek apa saja yang ada di sekitar dan memperkirakan kemana objek tersebut akan berpindah
o Pemrosesan suara
o Suara memiliki beberapa karakteristik, yaitu :
- Pitch : frekuensi suara (20 – 20.000 HZ)
- Loudness : amplitudo suara (30 – 100dB)
- Timbre : tipe atau jenis suara
• Sistem auditory melakukan filtering suara → kita mengabaikan
• suara background dan berkonsentrasi pada informasi yang penting
c) PERABA (TOUCH)
• Manusia menerima stimuli melalui kulit. Kulit memiliki tiga jenis sensor penerima (sensory receptor), yaitu :
ü Thermoceptor → merespon panas / dingin
ü Nociceptor → merespon pada tekanan yang intens, rasa sakit
ü Mechanoceptor → merespon pada tekanan IMK
• Keyboard bisa dikaitkan dengan posisi-posisi bentuk tombol, juga pengoperasian yang memerlukan penekanan, ada yang berat atau malah terlalu ringan.
d) PROSES INFORMASI
Proses informasi pada manusia terdiri dari 3 sistem utama :
1. Perseptual
- Menangani sensor dari luar
- Sebagai buffer untuk menampung masukkan yang diterima dari indera manusia
- Diproses (diterima) untuk diteruskan ke otak (memori)
2. Kognitif : memproses hubungan keduanya
3. Sistem Motor : mengontrol aksi / respon (pergerakan, kecepatan, kekuatan)

3. MEMORI
• Memori menyimpan pengetahuan faktual dan pengetahuan prosedural.
• Terdapat 4 tipe memori :
a. Perceptual Buffer (Memori Sensor)
- Terbatas kapasitasnya.
- Informasi yang masuk melalui indera tidak semua dapat diproses.
b. Short Term Memory (STM)
- Memori kerja menyimpan informasi yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat / sementara
pada saat kita sedang melakukan pekerjaan.
- Dapat diakses dengan cepat, namun berkurang secara cepat pula
- Metode digunakan untuk mengukur kapasitas, yaitu berdasarkan :
a. Panjang suatu deret (sequence) yang dapat diingat secara terurut.
b. Kemampuan mengingat kembali item-item secara acak.
Untuk mengukur berdasarkan metode yang pertama :
0 7 1 6 7 6 9 1 5 3
• G.A. Miller : 7 +/- 2 ( dari 5 hingga 9) digit
0 7 1 – 6 7 6 – 9 1 5 3 telepon
(area) (distrik) (nomor)
• Kelompok-kelompok digit = Chunk
HEC ATR ANU PTH ETR EET – sekumpulan chunk
Informasinya : dengan memindah karakter akhir ke posisi awal, urutan tersebut akan
mudah direcall.
• THE CAT RAN UPT HET REE → THE CAT RAN UP THE TREE
o Bentuk yang sukses dari chunk dikenal dengan CLOSURE. Proses ini digeneralisasi ke penyelesaian tugas yang ada di STM. Jika subjek gagal untuk melakukan atau ada interferensi maka subjek akan kehilangan jejak dari apa yang telah dikerjakannya dan terjadi kesalahan.
Untuk mengukur kemampuan untuk mengingat item secara acak → lebih mudah mengingat item yang baru ( recency effect)
c. Intermediate
Menyimpan untuk ke LTM
d. Long Term Memory (LTM)
- Penyimpanan utama untuk informasi faktual, pengetahuan berdasarkan eksperimen / pengalaman, aturan-aturan prosedur, tingkah laku, dsb.
- Kapasitasnya lebih besar, waktu akses yang lebih lambat, serta proses hilangnya informasi lebih lambat.
Terdapat dua jenis LTM :
a. Memori Episodik : menyimpan “data” kejadian atau pengalaman dalam bentuk serial
menurut waktu.
b. Memori Semantik : menyimpan record-record fakta, konsep, keahliaan (skills) serta
informasi lain yang diperoleh selama hidup dengan terstruktur.
Pemrosesan Memori Jangka Panjang
• Aktivitas :
- Menyimpan atau mengingat informasi
- Menghilangkan atau melupakan informasi
- Memanggil kembali informasi
• Tersimpan karena pengulangan (rehearsal)
• Ebbinghaus → jumlah yang dipelajari berbanding lurus dengan waktu mempelajarinya = total time hypothesis
• Proses melupakan informasi : decay → karena sudah lama berada di LTM sehingga lambat laun akan terlupakan + interference → karena adanya informasi baru yang lama terlupakan.
• Proses memanggil kembali informasi : recall → memanggil kembali secara langsung informasi + recognition → presentasi sejumlah pengetahuan (knowledge) yang terkait sebagai petunjuk.

4. OBSERVASI
• Orang lebih fokus untuk menyelesaikan masalah, tidak untuk belajar menggunakan suatu sistem secara efektif.
• Orang menggunakan perbandingan jika tidak ada penyelesaian.
• Orang lebih kepada heuristic daripada algorithmic
o Lebih mencoba coba-coba daripada pemikiran matang
o Orang lebih memilih sub-strategi untuk masalah yang tidak terlalu penting.
o Orang belajar strategi lebih baik dengan latihan

5. PENYELESAIAN MASALAH
• Setelah penyimpanan di LTM, kemudian diaplikasikan
• Penalaran (Reasoning) : proses pengambilan kesimpulan mengenai sesuatu atau hal baru dengan pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.
Reasoning terdiri dari :
• Deduktif
- Menarik kesimpulan secara logika dari premis yang diberikan
- Jika A, maka B
- Sangat buruk untuk mengkonfirmasikan validitas dan kebenaran
Contoh :
If it is Friday then she will go to work
It if Friday
Therefore she will go to work
If it raining then the ground is dry
It is raining
Therefore the ground is dry
• Induktif
- Men-generalisasi dari kasus sebelumnya untuk belajar tentang hal baru
- Meskipun induksi mungkin tidak dapat diandalkan namun merupakan proses
yang berguna
- Induksi mengakibatkan manusia senantiasa belajar mengenai lingkungan
• Abduktif
- Penalaran dari sebuah fakta ke aksi atau kondisi yang mengakibatkan fakta
tersebut terjadi
- Metode ini digunakan untuk menjelaskan event yang kita amati
- Mungkin tidak dapat diandalkan, namun manusia seringkali menerangkan
sesuatu hal dengan cara seperti ini, dan mempertahankan hingga ada bukti lain
yang mendukung penjelasan atau teori alternatif

Sekian postingan hari ini, walo nyomot moga bermanfaat... :)

sumber :
http://itrackerz.com/blog/category/artikel/usability/
http://fikarzone.wordpress.com/2010/02/17/maksud-dari-prinsip-usability/
READ MORE - USABILITY

Sabtu, 08 Januari 2011

Kompetensi Guru

Bicara tentang kompetensi guru, ini ada hubungannya dengan pengerjaan skripsi saya saat ini (curhat,wkwk). Ini adalah sedikit penjelasan mengenai kompetensi guru yang saya dapatkan selama saya mengerjakan proposal skripsi. Sekedar sharing aja, kalo ada yang berkenan baca-baca... hehe


Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) dijelaskan bahwa kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi guru merupakan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dalam UUGD pasal 10 ayat 1 Kompetensi tersebut meliputi: 1) Kompetensi Pedagogik; 2) Kompetensi Profesional; 3) Kompetensi Kepribadian; 4) Kompetensi Sosial yang diperoleh dari program sertifikasi. Penjelasan masing-masing kompetensi tersebut adalah sebagai berikut :

1) Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran terhadap peserta didik . Dalam Penjelasan UUGD Pasal 10 ayat 1, Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Penjabaran dari kompetensi pedagogik berdasarkan Peraturan Pemerintah No.16 tahun 2007 adalah sebagai berikut :

a) Menguasai karakteristik peserta didik.

b) Menguasai teori dan prinsip-prinsip pembelajaran.

c) Mengembangkan kurikulum.

d) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.

e) Memanfaatkan Teknologi informasi dan komunikasi.

f) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik.

g) Berkomunikasi secara efektik, empatik dan santun terhadap peserta didik.

h) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

i) Memanfaatkan hasil penelitian dan evaluasi.

j) Melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.


2) Kompetensi Profesional

Dalam Penjelasan UUGD Pasal 10 ayat 1 Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi professional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dan mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru. Penjabaran dari kompetensi profesional berdasarkan Peraturan Pemerintah No.16 tahun 2007 adalah sebagai berikut :

a) Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan.

b) Menguasai Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pelajaran yang diampu.

c) Mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif.

d) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan kegiatan reflektif.

e) Memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk mengembangkan diri.


3) Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian dalam Penjelasan UUGD Pasal 10 ayat 1 yaitu kemampuan kepribadian guru yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadadi teladan peserta didik. Penjabaran dari kompetensi kepribadian berdasarkan Peraturan Pemerintah No.16 tahun 2007 adalah sebagai berikut :

a) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial dan kebudayaan nasional Indonesia.

b) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

c) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.

d) Menujukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi seorang guru, dan rasa percaya diri.

e) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.


4) Kompetensi Sosial

Dalam Penjelasan UUGD Pasal 10 ayat 1, kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Penjabaran dari kompetensi sosial berdasarkan Peraturan Pemerintah No.16 tahun 2007 adalah sebagai berikut :

a) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status ekonomi sosial.

b) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan satun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.

c) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.

d) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

"sekian postingan kali ini,, muga bermanfaat... ^_^

READ MORE - Kompetensi Guru

Selasa, 01 Desember 2009

PERMASALAHAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN DAN PEMECAHANNYA

Dalam masalah pedidikan, perhatian pemerintah masih terasa sangat minim. Gambaran ini tecermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Dampak dari pendidikan yang semakin buruk itu membuat negeri kita kedepannya makin terpuruk. Pada dasarnya ada dua masalah pokok pendidikan, yaitu yang pertama mengenai masalah pemerataan, dan yang kedua yaitu masalah mutu, relevansi dan efisiensi pendidikan bagi peserta didik. Sedangkan permasalahan pendidikan yang telah menjadi kesepakatan nasional ada empat masalah. Masing-masing dari keempat permasalahan tersebut akan dibahas sebagai berikut.

1. Masalah Pemerataan Pendidikan
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan tentang bagaimana sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Permasalahan ini timbul akibat masih banyaknya anak usia sekolah yang belum bisa ditampung dalam suatu lembaga pendidikan karena kurangnya fasilitas serta sarana yang disediakan, seperti gedung-gedung sekolah, tenaga pengajar, dan alat serta media belajar. Walaupun pemerintah telah membuat Undang-Undang yang mengatur permasalahan pendidikan, bukan berarti tujuan yang dicantumkan dalam Undang-Undang tersebut bisa terealisasi sesuai harapan. Undang-Undang tersebut kemudian dijadikan sebagai landasan pelaksanaan upaya pemerataan pendidikan guna mengejar ketertinggalan bangsa kita akibat penjajahan.
Permasalah pemerataan pendidikan ini merupakan salah satu permasalahan yang penting untuk diperhatikan. Utamanya pemberian pendidikan dasar yang memang sangat penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi perkembangan kehidupan. Pemberian pendidikan dasar di Sekolah dasar dapat memberikan bekal yang berarti dalam perkembangan pendidikan selanjutnya. Seperti kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang dapat dikembangkan oleh masing-masing individu dalam mengikuti perkembangan kemajuan melalui berbagai media dan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian individu-individu tersebut tidak akan terbelakang dan menjadi penghambat dalam pembangunan.
Untuk pendidikan formal atau persekolahan, terdapat kebijaksanaan penyediaan memperoleh kesempatan pendidikan dari setiap jenjang pendidikan yang ditempuh. Pada jenjang pendidikan dasar, kebijaksanaan tersebut berdasarkan pada faktor kuantitatif, yaitu pemberian bekal dasar pendidikan yang sama kepada seluruh warga negara. Pada jenjang pendidikan menengah dan atas, kebijakan tersebut lebih didasarkan atas pertimbangan kualitatif dan relevansi, yaitu minat dan kemampuan peserta didik, keperluan tenaga kerja, dan keperluan pengembangan masyarakat, kebudayaan, ilmu dan teknologi.
Untuk pendidikan informal atau luar sekolah, usaha pemerataan pendidikan dapat berjalan dengan pesat. Hal ini dikarenakan oleh dua faktor, pertama yaitu faktor perkembangan iptek yang menawarkan berbagai macam alternatif model pendidikan untuk memperluas pelayanan kesempatan belajar serta menambah pengetahuan mengenai teknologi. Faktor kedua yaitu faktor konsep pendidikan sepanjang hidup yang tidak membatasi usia seseorang untuk menuntut ilmu dan tidak terbatas hanya pada sarana-prasarana pendidikan yang tersedia.

Pemecahan Masalah Pemeratan Pendidikan
Permasalahan pemerataan pendidikan ini dapat dipecahkan melalui beberapa cara. Cara-cara tersebut bisa secara langsung pada sarana pendidikan atau pada pelaku pendidikan. Pada sarana pendidikan, dapat dilakukan misalnya melalui cara pembangunan gedung sekolah baru di daerah-daerah pinggiran, perbaikan dan penggantian gedung sekolah yang tidak layak pakai serta pengadaan sistem double sift (bergantian pagi dan sore) untuk penggunaan gedung sekolah agar penggunaannya bisa merata.
Sedangkan pada pelaku pendidikan dapat ditempuh dengan cara memberlakukan beberapa alternatif sistem pembelajaran baru. Seperti sistem pendidikan oleh masyarakat, orang tua dan guru sehingga proses belajar bisa terjadi dimanapun, pengadaan sekolah dasar kecil di daerah terpencil untuk mengenalkan pendidikan bagi masyarakat pinggiran, sistem guru kunjung, sekolah terbuka, menggalakkan pendidikan luar sekolah seperti kejar paket A, B dan C, serta mengembangkan sistem belajar jarak jauh seperti teleconverse dan e-learning.

2. Masalah Mutu Pendidikan
Masalah mutu pendidikan muncul ketika hasil pendidikan belum mencapai taraf seperi yang diharapkan. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia pendidikan dan sistem pendidikan yang kita pakai dapat menjadi penyebab dari permasalahan di atas. Banyaknya pelajar Indonesia masih belajar dalam taraf menghafal saja. Dimana hanya berbekal hafalan tidak membuat tambahnya suatu kecerdasan maupun tambahnya kedewasaan seseorang. Di dalam belajar seharusnya disertai pemahaman terhadap suatu materi, sehingga pemahaman tersebut akan benar-benar menancap pada otak pelajar. Dan pada akhirnya, ketika ia harus terjun dalam masyarakat ia akan benar-benar bisa mengaplikasikan ilmu yang pernah ia pelajari tersebut.
Mutu pendidikan dapat diketahui pada kualitas keluarannya. Masyarakat tidak akan melihat proses bagaimana ia belajar. Yang dilihat hanyalah hasil akhir dari sekian lama ia menempuh pendidikan. Permasalahan yang banyak muncul sekarang adalah, apakah kualitas keluaran dari sistem pendidikan itu termasuk dalam pribadi yang benar-benar berkualitas sebagai manusia pembangunan. Dalam hal ini mampu membangun dirinya sendiri dan lingkungannya. Tetapi jelas tidak mudah mengukur mutu produk keluaran tersebut. Hal inilah yang membuat masyarakat menilai seseorang hanya pada hasil keluarannya saja, tanpa melihat proses pembelajaran dan proses mendapatkan keluaran tersebut.
Padahal sangat jelas, bahwa hasil belajar yang bermutu hanya mungkin dicapai melalui proses belajar yang bermutu. Jika proses belajar tidak optimal, maka akan sulit mendapat hasil yang maksimal. Tapi bila proses belajar tidak optimal tetapi hasil yang dicapai baik, maka bisa dipastikan bahwa hasil yang dicapai itu semu. Ironisnya banyak sekali kejadian yang demikian tersebut terjadi di kehidupan kita sekarang. Jadi dari sini dapat diketahui bahwa pokok permasalahan mutu pendidikan terletak pada masalah pemrosesan pendidikan. Dalam proses belajar itu sendiri juga diperlukan dukungan dari komponen pendidikan seperti peserta didik, tenaga kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran dan masyarakat sekitar. Tapi dukungan yang diberikan pun juga tergantung pada kualitas dan kerjasama komponen pendidikan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Mutu komponen pendidikan juga tergantung pada letak geografis tempat dimana komponen pendidikan itu berada. Umumnya diketahui bahwa di daerah pedesaan utamanya daerah terpencil mutu komponen pendidikannya lebih rendah daripada di daerah perkotaan. Usaha pemerataan pendidikan bertujuan untuk memeratakan mutu pendidikan di setiap jenjang agar terjadi peningkatan mutu pendidikan di setiap daerah, baik itu desa maupun kota sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.

Pemecahan Masalah Mutu Pendidikan
Sasaran pemecahan masalah mutu pendidikan adalah perbaikan kualitas komponen pendidikan dan mobilitas komponen-komponen tersebut. Upaya pemecahan permasalahan ini dapat ditempuh dengan cara:
- Seleksi yang lebih ketat terhadap calon yang akan masuk ke sekolah lanjutan atau tempat kerja.
- Pelatihan dan pengembangan kemampuan tenaga pendidikan melalui latihan, penataran, seminar, dan lain-lain.
- Penyempurnaan dan pemantapan kurikulum agar tidak mudah mengalami perubahan,
- Pembangunan sarana prasarana yang dapat mendukung kegiatan belajar.
- Penggunaan alat peraga, buku paket dan laboratoriun secara tepat guna.
- Pemantapan peraturan dalam berbagai ujian, baik itu ujian sekolah atau ujian kenegaraan.
- Pengawasan dan penelitian proses pendidikan oleh penilik ke setiap sekolah

3. Masalah Efisiensi Pendidikan
Masalah efisiensi pendidikan membahas bagaimana sistem pendidikan memanfaatkan sumber daya pendidikan yang ada untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini tergantung bagaimana penggunan dari sumber daya tersebut. Akan dikatakan mempunyai efisiensi tinggi apabila penggunannya hemat dan tepat sasaran. Dan bila sebaliknya, maka efisiensinya rendah. Sumber daya yang dimaksud di sini antara lain adalah tenaga kependidikan dan sarana prasarana pendidikan.
Masalah efisiensi tenaga kependidikan umumya meliputi masalah pengangkatan dan penempatan. Permasalahan pengangkatan terletak pada ketidakseimbangan antara jatah pengangkatan yang telah ditentukan dengan jumlah tenaga yang tersedia. Hal ini dapat menyebabkan kemubadziran tenaga pendidik, karena jatah pengangkatan jauh lebih kecil dari jumlah tenaga yang tersedia. Sehingga banyak tenaga pendidik banting setir mencari mata pencaharian yang tidak sesuai dengan keterampilannya mengajar. Padahal tenaga pendidik tidak dipersiapkan untuk berwirausaha.
Permasalahan penempatan banyak terjadi pada guru bidang studi. Masalah terletak pada ketidaksesuaian penempatan keahlian guru dengan kebutuhan di lapangan. Guru-guru yang menjadi korban dari permasalahan ini terpaksa merangkap mengajarkan bidang studi di luar kewenangannya. Hal ini dikarenakan terbatasnya jumlah pengangkatan guru di suatu sekolah, selain itu sulitnya menjaring tenaga yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil sehingga menyebabkan kekurangan tenaga pengajar. Permasalahan penempatan tenaga pengajar ini dapat menyebabkan ketidakefisienan dalam memfungsikan tenaga guru.
Masalah efisiensi sarana prasarana lebih tertuju pada kurang matangnya perencanaan penggunaan, selain itu juga karena perubahan kurikulum. Permasalahan kurang matangnya perencanan misalnya pada pembangunan gedung-gedung sekolah tanpa memperhatikan lokasinya. Akibatnya banyak sekolah kekurangan murid dan banyak ruangannya menjadi kosong. Contoh lain yaitu diadakannya pendistribusian sarana pembelajaran tanpa dibarengi dengan pembekalan kemampuan, sikap dan keterampilan. Hal ini menyebabkan kemubadziran, karena sarana tersebut akhirnya tidak terpakai dan peningkatan efektifitas belajar pun gagal direalisasikan. Perubahan kurikulum biasanya mengakibatkan tidak terpakainya lagi buku paket siswa, pegangan guru dan perangkat belajar lainnya karena harus diganti dengan yang baru. Selain itu pengadaan pelatihan dan penataran kurikulum baru itu jelas memakan biaya yang tidak sedikit. Dan akhirnya pemborosan pun tidak bisa dielakkan lagi.
Pemecahan Masalah Efisiensi Pendidikan
Permasalah efisiensi pendidikan lebih mengarah pada masalah kualitas, tentu saja ini dapat di pecahkan melalui pendekatan teknologi pendidikan.Hal tersebut dapat ditempuh melalui cara-cara pendekatan sistem, berorientasi pada peserta, dan pemanfaatan sumber belajar. Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu didesain atau dirancang dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang pembelajaran diperlukan langkah-langkah prosedural meliputi: identifikasi masalah, analisis keadaan, identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran, penetapan metode, penetapan media evaluasi pembelajaran. Prinsip berorientasi pada peserta didik berarti bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatiannya pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari peserta didik. Prinsip pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran peserta didik hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya. Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dalam satu kegiatan pendidikan adalah bagaimana pesera didik dapat belajar, dengan cara mengidentifikasi, mengembangkan, mengorganisasi, serta menggunakan segala macam sumber belajar. Dengan demikian upaya pemecahan masalah dalam pendekatan teknologi pendidikan adalah dengan mendayagunakan sumber belajar.

4. Masalah Relevansi Pendidikan
Relevansi menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti hubungan atau kaitan. Maksudnya yaitu hubungan antara hasil keluaran (output) pendidikan dengan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh pembangunan. Tugas pendidikan yaitu menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana sistem pendidikan mampu menghasilkan output dari proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan. Output pendidikan diharapkan mampu mengisi semua sektor pembangunan yang beraneka ragam. Jika system pendidikan mampu menghasilkan output yang baik, potensial dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan, maka relevansi pendidikan dianggap tinggi.
Umumnya output yang dihasilkan oleh suatu sistem pendidikan jumlahnya lebih besar daripada tenaga yang dibutuhkan di lapangan. Namun sebaliknya, ada tenaga kerja yang dibutuhkan di lapangan, tapi kurang diproduksi atau bahkan tidak diproduksi. Ketidakseimbangan ini tentunya dapat menambah permasalahan dalam dunia pendidikan. Jumlah output yang lebih besar daripada tenaga yang dibutuhkan menyebabkan terjadinya penumpukan jumlah tenaga kerja yang menunggu pekerjaan setiap tahunnya. Hal lain yang mendukung masalah relevansi pendidikan yaitu masalah penyebaran penduduk. Penyebaran penduduk di Indonesia tidak merata. Ada daerah yang padat penduduk, terutama di kota-kota besar dan daerah yang jarang penduduk yaitu di daerah pedalaman khususnya daerah terpencil yang berlokasi di pegununugan dan pulau-pulau. Permasalahan ini dapat menimbulkan perbedaan kebudayaan dan pandangan hidup mereka.
Masyarakat yang hidup di perkotaan umumnya mampu berfikir moderen dan mempunyai orientasi ke depan, sedangkan masyarakat pedalaman biasanya sudah merasa puas dengan apa yang dimilikinya tanpa ada usaha untuk maju. Hal inilah yang membuat kelompok masyarakat pedalaman kurang ikut berperan serta dalam pembangunan. Tugas pendidikan ialah menyadarkan mereka akan ketertinggalannya dan memperkenalkan bagaimana cara menyediakan sarana kehidupan. Dalam hal ini pendidikan juga berperan dalam hal transformasi budaya, dan selalu bertumpu pada kebudayaan nasional. Sedangkan kebudayaan nasional sendiri selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Jika sistem pendidikan mampu menggapai masyarakat keterbelakangan kebudayaan tersebut, maka pendidikan mampu melibatkan masyarakat tersebut dalam pembangunan. Dengan ini maka relevansi dianggap terjadi.

Pemecahan Masalah Relevansi Pendidikan
Permasalahan relevansi pendidikan dapat dipecahkan mealui cara-cara seperti:
- Perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi agar tercipta manusia yang berkualitas tinggi sehingga meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
- Peningkatan kemampuan akademik, profesionalisme dan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga mampu berfungsi secara optimal, terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat menunjukkan apa yang pernah ia dapatkan selama menempuh pendidikan.
- Melakukan pembaharuan sistem pendidikan, termasuk kurikulum. Seperti menyusunan kurikulum yang mengacu pada standar nasional yang berlaku secara nasional dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat.
- Memberdayakan lembaga pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal. Juga meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.
- Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyeluruh agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai hak, dukungan, dan lindungan sesuai dengan potensinya.
- Pemberdayaan lembaga pendidikan baik formal dan nonformal di dalam pembentukan dan pengembangan kualitas SDM sedini mungkin, termasuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan keimanan dan ketakwaan secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan.
- Memberdayakan dewan pendidikan dan komite sekolah atau madrasah sebagai wujud peran serta masyarakat dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program pendidikan.

II. KESIMPULAN
Pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan. Pendidikan berperan untuk menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan. Karena pembangunan selalu berubah mengikuti tuntutan zaman, maka pendidikan pun juga harus bisa mengimbangi. Sebagai akibatnya, permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan pun semakin luas. Hal ini dikarenakan sasaran pendidikan adalah manusia yang merupakan pelaku dalam kegiatan pembangunan serta usaha pendidikan yang mempunyai orientasi ke depan dan harus dapat dijangkau oleh pemikiran manusia. Permasalahan yang timbul antara lain seperti masalah pemerataan pendidikan, masalah mutu pendidikan, masalah efisiensi pendidikan, dan masalah relevansi pendidikan.
Untuk memecahkan permasalahan-permasalahn tersebut diperlukan rumusan tentang berbagai masalah yang bersifat pokok agar pemecahannya pun bisa tepat sasaran. Keempat permasalahan yang timbul tersebut dapat teratasi jika pendidikan mampu untuk:
- Menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya mampu menampung semua warga negara yang butuh pendidikan dalam suatu wadah pendidikan.
- Mencapai hasil pendidikan yang bermutu, artinya perencanaan dan proses belajar telah sesuai dengan tujuan sistem pendidikan yang telah ditetapkan
- Terlaksana secara efisien, artinya pemrosesan pendidikan sesuai dengan rancangan dan tujuan yang telah ditulis dalam perencanaan.
- Menghasilkan produk bermutu yang relevan, artinya output yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.
Namun yang terjadi sekarang, hal-hal diatas belum dapat dipenuhi oleh sistem pendidikan yang ada di negara kita.
READ MORE - PERMASALAHAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN DAN PEMECAHANNYA
 

UM Bloggers


Universitas Negeri Malang

Sample Text

Starting Point...

Bila aku harus mengulangi hidup ini, aku akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama, tetapi aku pastikan bahwa aku menemukan kesalahan-kesalahan itu jauh lebih awal. Sehingga keberhasilan akan datang lebih awal menjemput dan meng'elukanku.
Aku tidak tahu takdirku, tetapi aku tahu hakku untuk berhasil.